E-Vote : Solusi atau Bencana – #SIMenulis

Teknologi berkembang semakin canggih seiring berjalannya waktu. Teknologi sudah tidak dapat dipungkiri lagi dan dikesampingkan keberadaannya, karena kini hampir setiap aspek kehidupan sudah dijajaki oleh teknologi. Salah satu aspek tersebut adalah politik. Kecanggihan teknologi telah membantu menyelesaikan permasalahan di dunia politik, contohnya dalam pemilihan umum. Teknologi yang digunakan dalam pemilihan umum ini adalah E-vote. Sudah banyak negara-negara maju maupun negara berkembang yang menerapkan pemilihan umum menggunakan teknologi tersebut. Namun, mengapa Indonesia masih mempertahankan pemilihan umum dengan cara konvensional hingga saat ini? Apabila dikilas balik, pemilihan umum pertama kali diselenggarakan di Indonesia pada tahun 1955 dalam rangka pemilihan anggota DPR. Sejak saat itu, pemilihan umum kemudian semakin berkembang hingga pemilihan kepala negara Indonesia yaitu Presiden.

Istilah LUBER pun, semakin lama semakin terkenal dikalangan masyarakat Indonesia. Istilah tersebut merupakan singkatan dari empat asas yang dianut oleh pelaksanaan pemilihan umum di Indonesia, yaitu langsung, umum, bebas dan rahasia. Pemilihan umum secara konvensional di Indonesia dinilai sangat transparan karena dilakukan secara manual dan dilakukan penghitungan secara manual pula, dan keempat asas tersebut dapat terpenuhi. Namun, hal ini membuat penghitungan suara dilakukan sangat lambat dan membutuhkan waktu yang lama sehingga hasil dari pemilihan umum tidak dapat disajikan dengan cepat. Tidak hanya membutuhkan waktu yang lama dalam pemrosesan suara pilihan masyarakat, pemilihan umum secara konvensional juga membutuhkan sumber daya manusia yang banyak. Tantu saja pemerintah harus mencari solusi untuk permasalahan ini, dan solusi ini pun juga harus tetap memenuhi keempat asas yang dianut pemilihan umum di Indonesia sejak dahulu.

E-Vote merupakan solusi yang tepat untuk mengatasi permasalahan tersebut. Bukan hanya mempercepat waktu penghitungan suara dan penyajian hasil pilihan masyarakat, dengan menggunakan E-Vote juga tidak membutuhkan sumber daya manusia yang banyak seperti saat menggunakan cara konvensional. Jika pemerintah merasa takut adanya kecurangan dan tidak dapat memenuhi keempat asas LUBER, dapat dikembangkan sistem dengan keamanan tingkat tinggi seperti menggunakan pindai sidik jari pada saat masyarakat ingin memilih dalam pemilihan umum. Jika pemerintah merasa infrastruktur yang dimiliki Indonesia belum memadai, bisa dilakukan dengan cara bertahap. Tidak harus langsung seluruh daerah di Indonesia menerapkan E-vote. E-vote ini dapat diterapkan misalnya di daerah-daerah yang memang sudah memiliki infrastruktur yang memadai seperti Ibu Kota terlebih dahulu dan juga kota-kota besar lainnya di Indonesia.

Hal apa lagi yang harus ditakutkan oleh pemerintah Indonesia untuk mulai menerapkan pemilihan umum menggunakan E-Vote? Mengutip perkataan dari Christian Lous Lange yaitu “Technology is a useful servant but a dangerous master” yang dapat diartikan bahwa teknologi merupakan sebuah solusi namun juga bencana. Dapat menjadi solusi apabila semua langkah-langkahnya dilakukan dengan benar dan tepat, namun juga dapat menjadi sebuah bencana apabila gegabah dalam mengerjakan tahapannya. Begitu juga dengan penerapan E-vote dalam pemilihan umum di Indonesia, akan menjadi solusi apabila penerapan dan langkah-langkahnya dilakukan dengan benar, dan bisa menjadi bencana apabila langkah-langkahnya dilakukan dengan asal. E-vote, merupakan solusi terbaik dari permasalahan yang timbul akibat pemilihan umum secara konvensional apabila pemerintah dapat menerapkan dan mensosialisasikannya dengan baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *