E-voting dalam Pilkada – #SIMenulis

Oleh : Ratih Cahyaningtyas

Tahun 2018 bisa menjadi tahun penting bagi warga negara Indonesia (WNI). Pasalnya, pemilihan umum (pemilu) atau pemilihan kepala daerah (Pilkada) selalu menjadi pesta demokrasi yang dilaksanakan setiap lima tahun sekali. Seperti pilkada pada tahun 2015, pilkada tahun ini akan dilakukan secara serentak.

Teknologi informasi (TI) semakin berkembang dari waktu ke waktu dan tersebar secara merata. Hal ini terbukti dengan jumlah pengguna handphone dan internet di Indonesia telah mencapai lebih dari 143 juta pengguna menurut. (Bohang, 2018) Perkembangan TI tidak hanya sekadar jumlah pengguna internet, melainkan TI dengan cepat mempermudah hampir di segala kegiatan masyarakat. TI mempermudah kegiatan belajar mengajar, bisnis, informasi terkini, dan lain-lain.

Pilkada dan TI sudah cukup sering menjadi perbincangan hangat dan saling memiliki keterkaitan. Masyarakat dewasa ini semakin menuntut flesibilitas dan efisiensi waktu dalam segala hal, termasuk pada hari pilkada. Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo menyatakan keinginannya untuk penerapan e-voting untuk pilkada. (Putra, 2016)

E-voting merupakan sebuah metode pengambilan dan perhitungan suara dalam suatu pemilihan dengan menggunakan perangkat elektronik. (Cara kerja e-Voting, 2015) Sistem evoting sendiri memiliki keunggulan. Pertama, waktu pelaksanaan pemilu semakin cepat. Menurut Andrari Grahitandaru selaku kepala Program Sistem Pemilu Elektronik BPPT menyatakan bahwa warga hanya perlu membawa KTP elektronik (KTP-el). KTP-el akan diperiksa melalui mesin khusus. Warga kemudian bisa langsung melakukan voting.

Kedua, E-voting mampu mengurangi penggunaan kertas. Sebelum pemilu diselenggarakan, Komisi Pemilihan Umum (KPU) tentu telah menyediakan banyak sekali kertas yang akan dibagikan kepada warga saat pemilu. Pilkada DKI Jakarta tahun 2017 tercatat sebanyak lebih dari 75% warga DKI Jakarta yang memilih. (Lestari, 2017) Peristiwa ini dapat ditarik kesimpulan bahwa KPU telah membuang penggunaan kertas hampir 25%. Hal ini sangat disayangkan mengingat banyak sekali pohon yang terancam ditebang dan proses penumbuhan pohon yang baru relatif lama. Proses tersebut berbanding terbalik dengan proses pembuatan kertas yang relatif cepat.

E-voting secara keseluruhan memberikan dampak baik bagi kegiatan pemilu, namun ada beberapa yang perlu diperhatikan. Pertama, pihak penyelenggara perlu memahami manajemen pengadaan dan investasi TI. Pemilu hanya berlangsung setiap lima tahun sekali. KPU harus melihat potensi biaya TI yang harus dikeluarkan apabila membeli perangkat sendiri atau menyewa (outsource). Apabila KPU melakukan outsourcing, bagaimana sistem outsourcing yang tepat dan mampu menghemat biaya negara.

Kedua, KPU perlu memastikan keamanan data pemilu dari kecurangan. TI yang semakin berkembang pesat, canggih, dan mudah diakses tentu memiliki potensi keamanan data yang rentan. Beberapa negara telah sukses menyelenggarakan e-voting, seperti: Brazil, Estonia, dan India. (Electronic Voting, 2017) Amerika Serikat sebelumnya telah melakukan sistem evoting dan pelaksanaan pemilu tergolong sukses namun sistem tersebut mulai ditinggalkan. Warga Amerika Serikat merasa bahwa e-voting sangat rentan diretas dan bisa terjadi manipulasi data. (Hoesin, 2017)

Secara keseluruhan, E-voting boleh saja diterapkan untuk pilkada atau pemilu di masa mendatang. E-voting memiliki beberapa keunggulan yang mudah dan menguntungkan selama kegiatan pilkada atau pemilu berlangsung. Apabila sistem E-voting benar diterapkan, pemerintah, KPU, dan pihak lain yang bersangkutan sudah mengidentifikasi peluang serta risiko keputusan tersebut.

References

Bohang, F. K. (2018, Februari 22). Jumlah Pengguna Internet Indonesia. Retrieved from Kompas.com: tekno.kompas.com/read/2018/02/22/16453177/berapa-jumlah-pengguna-internetindonesia

Cara kerja e-Voting. (2015, Juli 31). Retrieved from BPPT: https://www.bppt.go.id/teknologiinformasi-energi-dan-material/2260-ini-cara-kerja-e-voting-bppt

Electronic Voting. (2017). Retrieved from Wikipedia: https://en.wikipedia.org/wiki/Electronic_voting#By_country

Hoesin, I. (2017, Maret 16). AS Mulai Tinggalkan E-Voting. Retrieved from Media Indonesia: http://www.mediaindonesia.com/news/read/96702/as-mulai-tinggalkan-e-voting/2017-0316

Lestari, R. (2017, Februari 26). Jumlah Golput di Pilgub DKI 2017 Menurun. Retrieved from Okezone: https://news.okezone.com/read/2017/02/26/338/1628658/jumlah-golput-di-pilgub-dki2017-menurun

Putra, L. M. (2016, September 20). Pemilu 2019, Pemerintah Ingin Pakai “E-Voting”. Retrieved from Kompas: http://nasional.kompas.com/read/2016/09/20/20451491/pemilu.2019.pemerintah.ingin.pa kai.e-voting.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *